Satelit Starlink tidak dirancang untuk berada di orbit selamanya. Setiap satelit memiliki masa operasional tertentu, dan ketika sudah tidak lagi dapat berfungsi dengan baik, satelit tersebut perlu dikeluarkan dari orbit agar tidak menjadi space debris atau sampah antariksa.

Hal ini penting karena jumlah satelit di orbit bumi terus bertambah. Jika satelit yang sudah tidak aktif dibiarkan begitu saja, risiko terjadinya tabrakan dengan satelit lain maupun objek antariksa akan semakin besar. Tabrakan semacam ini juga bisa menghasilkan lebih banyak serpihan yang berpotensi mengganggu satelit aktif dan misi antariksa lainnya.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Starlink menerapkan proses deorbiting pada satelit yang sudah tidak digunakan. Satelit diarahkan ke orbit yang lebih rendah hingga akhirnya masuk kembali ke atmosfer dan terbakar. Dengan cara ini, satelit yang sudah selesai menjalankan tugasnya tidak dibiarkan menjadi benda mati yang terus berputar di orbit bumi.

Ketika sebuah satelit Starlink mendekati akhir masa operasionalnya, proses deorbiting dapat dilakukan dengan menurunkan ketinggian orbitnya secara bertahap. Satelit kemudian semakin mendekati atmosfer bumi hingga hambatan atmosfer (atmospheric drag) membuat orbitnya terus turun dan akhirnya masuk kembali ke atmosfer.

Menariknya, proses ini tidak selalu harus menunggu satelit benar-benar rusak. Starlink juga dapat melakukan controlled deorbit pada satelit yang sudah tidak lagi diperlukan atau mengalami masalah teknis. Langkah ini membantu mengurangi waktu sebuah satelit berada di orbit setelah masa operasionalnya berakhir.

Saat memasuki atmosfer pada kecepatan sangat tinggi, sebagian besar struktur satelit akan mengalami pemanasan ekstrem dan terbakar. Proses tersebut menjadi bagian penting dari pengelolaan konstelasi Starlink, mengingat jumlah satelit yang beroperasi terus bertambah dan membutuhkan pengelolaan orbit yang terencana.

Sampah antariksa menjadi salah satu tantangan besar seiring semakin banyaknya satelit yang diluncurkan ke orbit. Benda yang sudah tidak berfungsi tetap dapat bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan berpotensi bertabrakan dengan satelit aktif. Karena itu, pengelolaan satelit setelah masa operasionalnya berakhir menjadi bagian penting dari keberlanjutan aktivitas di luar angkasa.

Starlink menggunakan pendekatan deorbiting untuk mengurangi risiko tersebut. Satelit yang sudah tidak digunakan dapat diarahkan ke orbit yang lebih rendah sehingga hambatan atmosfer secara bertahap menariknya kembali ke bumi. Pada akhirnya, satelit akan mengalami proses re-entry dan terbakar akibat panas ekstrem saat memasuki atmosfer.

Pendekatan ini juga berkaitan dengan konsep space sustainability, yaitu menjaga agar orbit bumi tetap dapat digunakan secara aman untuk berbagai misi di masa depan. Dengan jumlah satelit yang terus bertambah, kemampuan untuk mengelola satelit yang sudah tidak aktif menjadi semakin penting, bukan hanya bagi Starlink tetapi juga bagi industri antariksa secara keseluruhan.

Setelah orbitnya diturunkan, satelit Starlink akan memasuki lapisan atmosfer bumi dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menghasilkan panas ekstrem yang membuat sebagian besar komponen satelit mengalami ablation, yaitu material terkikis dan menguap selama proses re-entry. Karena itu, satelit tidak sekadar jatuh begitu saja ke permukaan bumi.

Sebagian besar satelit Starlink dirancang untuk terbakar habis saat masuk kembali ke atmosfer. Proses ini menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko munculnya sampah antariksa yang dapat bertahan lama di orbit. SpaceX juga menyebut desain satelitnya memperhatikan kemampuan untuk melakukan disposal melalui atmosfer setelah masa operasional berakhir.

Namun, proses re-entry tetap perlu diperhitungkan dengan hati-hati. Pengendalian orbit, waktu masuk kembali, serta desain satelit menjadi bagian penting untuk memastikan proses tersebut berlangsung dengan risiko serendah mungkin bagi lingkungan luar angkasa maupun area di bumi.

Perkembangan Starlink menunjukkan bahwa membangun jaringan internet berbasis satelit bukan hanya soal meluncurkan satelit sebanyak mungkin. Ketika jumlah satelit terus bertambah, pengelolaan satelit yang sudah tidak aktif juga menjadi bagian penting dari keberlanjutan jaringan. Proses deorbiting membantu mengurangi potensi penumpukan sampah antariksa dan menjaga orbit tetap lebih aman untuk digunakan.

Hal ini menjadi semakin relevan karena industri internet satelit terus berkembang. Semakin banyak konstelasi satelit yang beroperasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap teknologi dan regulasi yang mengatur masa operasional satelit hingga proses end-of-life. Artinya, masa depan internet satelit bukan hanya tentang koneksi yang cepat, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.

Bagi bisnis yang ingin memanfaatkan teknologi Starlink, perkembangan di sisi infrastrukturnya juga membuka semakin banyak peluang konektivitas di berbagai lokasi. Data Lake menyediakan solusi Starlink untuk kebutuhan bisnis dan korporat di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai produk dan layanan Starlink yang tersedia, hubungi tim Data Lake melalui sales@datalake.id.

Bagikan artikel

Facebook X Threads Mail